Cari

Ala Kekenyangan

[REVIEW] Cek Toko Sebelah VS Hangout

SIAPA YANG UDAH NONTON DUA INI? 

Sayaaaaaaa! 

Kedua film Indonesia ini populer belakangan ini. Yap, keduanya sudah menembus lebih dari satu juta penonton loh. 


Yahuu, bisa kita lihat kan, kalau film Raditya Dika penontonnya sudah dua juta lebih. Wow. 

Oke mari kita bahas dari yang lebih laku dulu. 

HANGOUT 

Film yang diluncurkan pada 22 Desember 2016 ini ternyata berhasil mengunci rasa penasaran penonton. Secara biasanya, Bang Raditya itu kan main film yang tentang cinta-cinta. Eh, kali ini, ceritanya tentang Thriller-Komedi. 

Bercerita tentang sembilan orang artis yang diundang untuk  hangout di suatu pulau, ternyata liburan mereka menjadi sebuah petaka. Satu per satu dari mereka dibunuh, tanpa tahu siapa sebenarnya siapakah dalang di balik semua pembunuhan tersebut. 

Jujur saja, menurut saya, cerita ini sangat konyol ketika adegan yang berhubungan dengan Mbak Dinda Kanya. Apalagi karakternya yang jorok itu bikin geli sekaligus ngakak. 

Jalan cerita di sini sih, kalau kata saya, pelakunya gampang tertebak. Secara logika semuanya kelihatan jelas, asalkan kalian menontonnya dengan jeli. 

Di tengah cerita, ternyata yang menyadari kemungkinan pelakunya itu malah Bayu Skak yang sepanjang film kerjanya megangin kamera sambil curhat-curhat. 

Dan … ternyata pelakunya … 

Yahh, nonton dulu deh. Hahaha. 

Menurut saya, yang janggal di sini itu, seperti alasan membunuh korban, rasanya hal tersebut terlalu dangkal untuk dijadikan alasan. Hmmm … tapi dari film ini, kocaknya lumayan. 

Selaku pemain, sutradara dan penulis cerita, Bang Raditya cukup baik dalam mengolah cerita ini. Pokoknya yang saya suka banget itu bagian Mbak Dinda deh. 

Cuma kalau dinilai dari segi thriller, ya saya bilang ini kurang, terlalu datar. Bahkan, teman sebelah saya saja sampai bermain game saat 3/4 film. 

Dari rating 5, saya akan kasih 3.8 buat film ini. 

Oh ya, kalau nggak salah di youtube juga udah ada tantangan dua juta viewers yang dilakuin Prilly. Coba tonton aja deh 😄 

CEK TOKO SEBELAH

Sejak awal trailer, saya memang sudah tertarik dengan film ini. Dan terbukti, Ko Ernest Prakasa ternyata sangat piawai dalam mengolah cerita ini. 

Berkisah tentang toko milik Ko Afuk yang ingin diberikan pada Erwin, yang notabene-nya sudah akan bekerja di Singapura, kisah ini mengantarkan kita pada sebuah konflik yang begitu dekat dengan kegiatan sehari-hari. 

Seperti adat orang Tionghua yang sering tetap menurunkan toko mereka, meski anak mereka sudah bersekolah jauh-jauh. Konflik Yohan, sebagai anak pertama sangat berbeda dengan Erwin yang sukses. 

Yohan ini seorang fotografer yang dahulunya DO (drop out ) dari kuliah karena ibu mereka meninggal, belum lagi, ayahnya–Ko Afuk–tidak menyukai Ayu, istrinya yang berdarah pribumi. 

Saya kasih tahu sedikit, biasanya orang Tionghua itu mau anaknya nikah sama orang Tionghua lagi. 

Jadi, cerita ini menurut saya sangat dekat dengan kehidupan. Lucunya dapet, sedihnya juga nge-feel banget. 

Pada 10 hari penayangan, film ini sudah hampir menyentuh angka dua juta penonton. Doakan saja, semoga film ini bisa menembus segitu. 

Saya jatuh cinta sama film ini karena kisahnya yang nggak mainstream. Ko Ernest berhasil menjadi sutradara yang menyuguhkan komedi, slice of life yang kental, dan angst yang bagus. Cuma kalau kata saya, judul sama jalan ceritanya rada nggak nyambung, hehe. Yak, kalau dari rating 5, saya akan kasih nilai 4.7 buat film ini. 

End of chapter 

Review ini tuh bersifat subyektif. Jadi, berdasarkan pendapat saya saja. 

Buat kalian yang memilih mau nonton Hangout atau Cek Toko Sebelah, saya kasih tips aja. 

Kalau kalian lebih suka cerita yang konyol dan komedi abis, silakan pilih Hangout. Kalau kalian lebih suka cerita yang ada kesan berarti, silakan nonton Cek Toko Sebelah. 

Respon kedua film ini juga bagus kok. 

( Respon Hangout )

( Respon Cek Toko Sebelah )

Kalau kalian mau nonton dua-duanya, boleh banget. Cuma, siap-siap aja, soalnya minggu-minggu ini masuknya harga weekend yang cenderung lebih mahal. Jadi, siapin kantong ya, hahaha. 

Sekian review dari saya yang kali ini nggak ada spoiler-nya. Jahahaha. 

P.S:

1. Slice of life itu genre cerita yang menggambarkan tentang kehidupan sehari-hari.

2. Angst itu adalah jenis cerita yang ada sad scene. 


[REVIEW] Headshot

Tahu dong ya, setelah lihat poster ini? 

Yap, ini adalah Headshot, film action dari negara kita, Indonesia. 

Pertama, saya kembali memperingatkan kalau di setiap  review  film saya pasti akan ada beberapa spoiler. 

Okay, jadi cerita yang diperankan Iko uwais dan Chelsea Islan ini berhasil mendapatkan penghargaan The Grand Prix Nouveau Genre Award untuk kategori International Feature Film.

Keren, bukan? 

Namun, setelah saya menonton film ini, saya kurang puas dengan alur ceritanya.

Berkisah tentang seorang pemuda yang terbangun dengan amnesia, ia dikejar oleh seorang pria bernama Lee. Lee ini menyandera Ailin, selaku dokter yang telah merawat pemuda itu. 

Pemuda yang diberi nama Ishmael oleh Ailin ini bertanya-tanya, berbagai kilasan masa lalu mulai muncul di benaknya. Menuntunnya bertemu dengan Ailin dan Lee, selaku ‘ayah’nya. 

Ternyata, Lee ini merupakan seorang buronan polisi yang dikejar. Ia menculik berbagai anak dan melatih mereka menjadi ‘serigala’. 

Nah, di  film ini, saya rasa ada plot hole yang begitu jelas, seperti:

– Mengapa anak-anak yang diculik oleh Lee malah semuanya setia? 

– Kenapa Lee malah menculik anak-anak dan menjadikan mereka serigala bukannya dibunuh atau dijual? 


Entah mengapa, alur film ini begitu kaku, menurut saya. Oh ya, sepanjang film kalian yang menonton juga akan menemukan ‘anjing’ yang berkeliaran di dalam cerita tersebut. (Yah, tapi … itu sih “Indonesia” banget ya? Hehe) 

Untuk bagian pertarungan (berkelahi) saya sangat mengacungkan jempol untuk Indonesia. Semua adegannya terlihat begitu real. Bahkan, saat pertarungan antara Ishmael dan Rika di pantai ada darah saat pertarungan berlangsung. Jadi ya, keren banget buat bagian pertarungannya. 

Tapi, kalau untuk bagian tembak-menembaknya … 

Okey, ini sangat oh-my-God-kok-polisi-polisinya-bego-banget. Jadi polisi-polisinya malah mati lebih banyak dibanding penjahatnya. Mereka juga kelihatan kayak asal nembak. Malah nembaknya nggak kena-kena ke para penjahat. Sedangkan para polisi, bolong sana sini. Jahahahaha. 

Terus juga ya, bagian slow motion pertarungan. Liur campur darah yang terbang itu rasanya bikin geli pengin ketawa. Bahkan muka-muka mereka jadi kocak abis. 

Ending-nya sih … 


Buat rating dari saya sendiri buat film ini sih: 7.5 dari 10. 

Kalau menurut kalian, bagaimana sih film ini? ^^

Secangkir Rindu di Malam-Malam

​Secangkir rindu yang tumpah malam-malam

Malah menyiram kenangan yang datang dalam diam

Pada garis waktu yang merangkak kelam

Tak bisakah terhenti sejam 


Seruput kasih sudah terasa hambar karena basi

Jantung hati sudah tak berdebar lagi 

Pecahan kata malah menusuk rongga hati

Bisakah rindu terbang saja pergi?

(Dibuat pada 13 November)

Pelangi Klimis 

Spektrum warna, prisma air mata

Berkait dan membentuk pesona

Sebuah simfoni cahaya

Menari bebas di angkasa


Semenit lalu menangis, 

Detik kemudian meringis

Lalu berubah jadi gerimis

Berakhir dengan pelangi klimis
(Dibuat pada 3 November, diedit pada 2 Desember)

[REVIEW] Hacksaw Ridge

wp-1480313816593.png

Berawal dari trailer yang menggugah mata, saya dan mama saya menonton film yang ternyata sangat bagus ini. Sebelum berlanjut, ada kemungkinan saya akan membuat beberapa spoiler (karena mulut ini gatal untuk tidak membicarakan keindahan film ini).

Prajurit Doss (yang diperankan oleh Andrew Garfield ini) ternyata adalah pembangkang yang telah menerima penghargaan karena sudah menyelamatkan 75 orang dalam semalam. Andrew Garfield ini gayanya bicaranya sangat mirip dengan Desmond Doss yang asli. Dalam film, Desmond sangat terlihat polos, lugu dan berpendirian teguh. Pada awal kisah, diceritakan bahwa ayah dari Desmond dan kakaknya, Hal, merupakan mantan prajurit yang telah dilupakan. Ayahnya ini punya trauma dengan kematian teman-temannya. Bahkan ia sering mabuk dan berkelahi dengan ibunda Desmond.

Pada kisahnya, Desmond yang menyukai dunia kedokteran, suatu hari menyelamatkan seseorang yang entah terjepit atau apa, dari bawah mobil (ada darah-darah muncrat gitu loh wkwk). Nah, jeng-jeng-jeng, pas di rumah sakit, Desmond terpaku pada seorang gadis yang mempunyai senyum yang indah baginya. Namanya Dorothy, seorang perawat bagian pengambilan darah.

Setelah berjalannya waktu, Desmond ceritanya fall in love sama Dorothy ini (dua-duanya saling cinta dah) terus banyak deh adegan kiss-kiss yang jangan dikasih lihat buat anak kecil (sama jomblo).

Kita skip aja deh ke bagian Desmond yang daftar jadi prajurit perang. Nah, di camp itu, Desmond itu banyak terkena bully. Kenapa? Ehm, karena dia pengin perang tanpa membawa satu senjata pun. Bahkan, latihan menembak juga, dia gak mau pegang pistolnya. Aw, greget habis dah pokoknya. Mulai dari dibilang sok jago, dipukulin, diintimidasi sama atasannya. Pokoknya, Desmond ini selalu berpegang teguh sama pendiriannya; Nggak mau membunuh.

Dan, di film ini, saya juga melihat, bahwa perang dunia itu sangat amat sangat kejam. Bangkai tubuh di mana-mana, darah yang sudah menjadi ornamen yang seolah cocok di medan sana, bahkan sampai ada yang terkena granat dan kakinya berubah jadi daging giling (pernah lihat daging keluar dari mesin giling ‘kan? Nah, semacam itu lah). Desmond ke medan perang sebagai anggota paramedis. Dan, ternyata Jepang sangat kejam. Bahkan, banyak sekali tentara Amerika yang mati.

Intinya, Jepang membombardir Hacksaw Ridge tersebut, membuat banyak prajurit AS yang mati. Dan akhirnya, pemimpin kelompok itu menarik para prajurit buat mundur. Turun dari Hacksaw Ridge tersebut.

Dan, Desmond merasa bingung sama rencana Tuhan. Dia melihat kalau perang itu begitu kejam, dan sebenarnya Tuhan mau dia seperti apa. Setelah ia berdoa, tiba-tiba ia dengar kalau ada yang berseru:”Please, help me! Help me, God.” 

SUMPAH YA, ini itu the best  scene i’ve ever seen. Bagaimana Desmond ini berlari lagi balik ke Hacksaw Ridge, dan menyelamatkan satu per satu orang. Setiap dia merasa capek, dia bakal bilang: 

MANTEP ABIEEZZ (tuh kan sampai alay gini)

Pokoknya, melalui film ini, saya melihat bagaimana Tuhan yang Desmond Doss ini sembah menyertai dia. Selama dia menyelamatkan 75 orang( dan menurunkan tubuh-tubuh yang terluka dengan tali) ia nggak kena satu luka tembak pun. Sampai akhirnya, dia terkena tembakan ketika prajurit AS kembali ke Hacksaw Ridge. 

Jepang pun akhirnya kalah, karena berkat Prajurit Doss yang memberitahu mereka markas Jepang yang ia masuki ketika ia bersembunyi saat Jepang berpatroli. 

(Nah, ini orang aslinya)

×××

Film ini benar-benar menyentuh hati saya. Bahkan dari angka 1-10, saya akan memberikan angka 9 buat film ini. Yang belum nonton, buruan nonton deh. Film ini nggak akan membuat kalian menyesal. Efek perangnya, korban perang, semuanya terkesan sangat real. And one word for this film; AWESOME.
 

 

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑